mundurnya presiden soeharto membawa habibie menggantikan menjadi presiden
Akhirnyapresiden Soeharto menyatakan berhenti dan secara otomatis wakil presiden Habibie menjadi presiden. Pemindahan kekuasaan dari presiden ke wakil presiden tersebut sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "jika presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh wakil
Habibiesebagai wakil Presieden - karena dalam Konstitusi negara RI, jika Preside berhalangan atau mengundurkan diri, maka otomatis Wakil Presiden akan naik mejadi Presiden sebagai pengganti Presiden yang mengundurkan diri tersebut. Jadi dengan demikian, setelah Pemilu diselenggarakan tahun 1999, maka BJ.
5Hal Ini Jadi Penyebab Runtuhnya Kekuasaan Presiden Soeharto di Tangan Rakyat Pada 1998 by Dany May 22, 2018, 2:00 pm 1.9k Views Semua pasti paham, bahwa Orde Baru yang diusung Presiden Soeharto sempat membawa kejayaan bagi bangsa Indonesia.
MundurnyaPresiden Soeharto membawa Habbie menggantikan menjadi presiden. Dasar yang digunakan dalam hal ini adalah . A. Keputusan presiden B. Instruksi presiden C. Ketetapan MPR D. Pasal 8 UUD 1945 Jawaban: D. Pasal 8 UUD 1945 7. Di bawah ini merupakan dampak negatif di bidang sosial pada masa akhir pemerintahan Orde Baru, kecuali .
Padatanggal 21 Mei 1998, presiden Soeharto menyatakan (declare) berhenti secara sepihak tanpa laporan pertanggungjawaban atau persetujuan pihak manapun karena kondisi saat itu sedang darurat dan gedung MPR/DPR dikuasai massa. Akhirnya presiden Soeharto menyatakan berhenti dan secara otomatis wakil presiden Habibie menjadi presiden.
Site De Rencontre Totalement Gratuit Forum. Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Malang27 Mei 2022 0406Jawabannya adalah opsi D. Pembahasan Presiden Soeharto akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 menyatakan berhenti secara sepihak tanpa laporan pertanggungjawaban atau persetujuan pihak manapun karena kondisi saat itu sedang darurat dan gedung MPR/DPR dikuasai massa. Akhirnya presiden Soeharto menyatakan berhenti dan secara otomatis wakil presiden Habibie menjadi presiden. Pemindahan kekuasaan dari presiden ke wakil presiden tersebut sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “jika presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh wakil presiden sampai habis masa waktunya”. Jadi jawaban yang benar adalah opsi D yaitu pasal 8 UUD 1945.
KOMPAS - TANGGAL 21 Mei 1998, pukul WIB, semua perhatian tertuju ke credentials room di Istana Merdeka, Jakarta. Saat itu, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Dalam pidato yang singkat, Soeharto antara lain mengatakan, Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998. Pengumuman pengunduran diri Soeharto Kamis pagi itu sesungguhnya tidaklah terlalu mengejutkan, karena sehari sebelumnya sudah ramai dibicarakan bahwa Presiden Soeharto akan mengundurkan diri. Yang menjadi pertanyaan, apa yang mendorong Soeharto akhirnya memutuskan untuk mundur? Karena, beberapa hari sebelumnya, Soeharto masih yakin dapat mengatasi keadaan. Kejutan ke arah mundurnya Soeharto diawali oleh keterangan pers Ketua DPR/MPR Harmoko usai Rapat Pimpinan DPR, Senin 18/5 18 Mei 1998 Pukul WIB, Harmoko di Gedung DPR, yang dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Harmoko saat itu didampingi seluruh Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad. Namun, kejutan yang disambut gembira oleh ribuan mahasiswa yang mendatangi Gedung DPR itu, tidak berlangsung lama. Karena malam harinya, pukul WIB Menhankam/ Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengemukakan, ABRI menganggap pernyataan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto mengundurkan diri itu merupakan sikap dan pendapat individual, meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif. Walaupun sikap ABRI itu disampaikan setelah Wiranto memimpin rapat kilat dengan para Kepala Staf Angkatan dan Kapolri serta para panglima komando, tetapi diketahui bahwa pukul WIB Panglima ABRI bertemu dengan Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana. Dengan demikian, muncul dugaan bahwa apa yang dikemukakan Wiranto itu adalah pendapat Presiden Soeharto. Pukul WIB, empat Menko diterima Presiden Soeharto di Cendana untuk melaporkan perkembangan. Mereka juga berniat menggunakan kesempatan itu untuk menyarankan agar Kabinet Pembangunan VII dibubarkan saja, bukan di-reshuffle. Tujuannya, agar mereka yang tidak terpilih lagi dalam kabinet reformasi tidak terlalu "malu". Namun, niat itu-mungkin ada yang membocorkan-tampaknya sudah diketahui oleh Presiden Soeharto. Ia langsung mengatakan, "Urusan kabinet adalah urusan saya." Akibatnya, usul agar kabinet dibubarkan tidak jadi disampaikan. Pembicaraan beralih pada soal-soal yang berkembang di masyarakat. Tanggal 19 Mei 1998 Pukul WIB, Presiden Soeharto bertemu ulama dan tokoh masyarakat, yakni Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Direktur Yayasan Paramadina Nucholish Madjid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof Malik Fadjar Muhammadiyah, Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi Muslimin Indonesia, Sumarsono Muhammadiyah, serta Achmad Bagdja dan Ma'aruf Amin dari NU. JB Suratno Presiden Soeharto memberikan keterangan pers seusai pertemuan dengan para ulama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan ABRI di Istana Merdeka, 19 Mei 1998, dua hari sebelum mengundurkan diri menjadi presiden. Disaksikan Mensesneg Saadillah Mursyid paling kanan dan para tokoh, antara lain Yusril Ihza Mahendra, Amidhan, Nurcholish Madjid, Emha Ainun Najib, Malik Fadjar, Sutrisno Muchdam, Ali Yafie, Ma'ruf Amin, Abdurrahman Wahid, Cholil Baidowi, Adlani, Abdurrahman Nawi, dan Ahmad pertemuan, Presiden Soeharto mengemukakan, akan segera mengadakan reshuffle Kabinet Pembangunan VII, dan sekaligus mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi. Presiden juga membentuk Komite Reformasi. Nurcholish sore hari mengungkapkan bahwa gagasan reshuffle kabinet dan membentuk Komite Reformasi itu murni dari Soeharto, dan bukan usulan mereka. Dalam pertemuan ini, sesungguhnya tanda-tanda bahwa Soeharto akan mengundurkan diri sudah tampak. Namun, ada dua orang yang tidak setuju bila Soeharto menyatakan mundur, karena dianggap tidak akan menyelesaikan masalah. Pukul WIB, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita bersama Menperindag Mohamad Hasan melaporkan kepada Presiden soal kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan pembakaran. Bersama mereka juga ikut Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng yang akan melaporkan soal rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan mundur. Pada saat itu, Menko Ekuin juga menyampaikan reaksi negatif para senior ekonomi; Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli, dan Frans Seda, atas rencana Soeharto membentuk Komite Reformasi dan me-reshuffle kabinet. Mereka intinya menyebut, tindakan itu mengulur-ulur waktu. Tanggal 20 Mei 1998 Pukul WIB, 14 menteri bidang ekuin mengadakan pertemuan di Gedung Bappenas. Dua menteri lain, yakni Mohamad Hasan dan Menkeu Fuad Bawazier tidak hadir. Mereka sepakat tidak bersedia duduk dalam Komite Reformasi, ataupun Kabinet Reformasi hasil reshuffle. Semula ada keinginan untuk menyampaikan hasil pertemuan itu secara langsung kepada Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan menyampaikannya lewat sepucuk surat. Pukul WIB, surat itu kemudian disampaikan kepada Kolonel Sumardjono. Surat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Soeharto. Soeharto langsung masuk ke kamar dan membaca surat itu. Soeharto saat itu benar-benar terpukul. Ia merasa ditinggalkan. Apalagi, di antara 14 menteri bidang Ekuin yang menandatangani surat ketidaksediaan itu, ada orang-orang yang dianggap telah "diselamatkan" menteri yang menandatangani-sebut saja Deklarasi Bappenas-itu, secara berurutan adalah Ir Akbar Tandjung; Ir Drs AM Hendropriyono SH, SE, MBA; Ir Ginandjar Kartasasmita; Ir Giri Suseno Hadihardjono MSME; Dr Haryanto Dhanutirto; Prof Dr Ir Justika S. Baharsjah Dr Ir Kuntoro Mangkusubroto Ir Rachmadi Bambang Sumadhijo; Prof Dr Ir Rahardi Ramelan Subiakto Tjakrawerdaya SE; Sanyoto Sastrowardoyo Ir Sumahadi MBA; Drs Theo L. Sambuaga; dan Tanri Abeng MBA. Alinea pertama surat itu, secara implisit meminta agar Soeharto mundur dari jabatannya. Perasaan ditinggalkan, terpukul, telah membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan lain kecuali memutuskan untuk mundur. Soeharto benar-benar tidak menduga akan menerima surat seperti itu. Persoalannya, sehari sebelum surat itu tiba, ia masih berbicara dengan Ginandjar untuk menyusun Kabinet Reformasi. Ginandjar masih memberikan usulan tentang menteri-menteri yang perlu diganti, sekaligus nama penggantinya. Probosutedjo, adik Soeharto, yang berada di kediaman Jalan Cendana, malam itu, mengungkapkan, Soeharto pada malam itu terlihat gugup dan bimbang. "Pak Harto gugup dan bimbang, apakah Habibie siap dan bisa menerima penyerahan itu. Suasana bimbang ini baru sirna setelah Habibie menyatakan diri siap menerima jabatan Presiden," ujarnya. Probosutedjo menggambarkan suasana di kediaman Soeharto malam itu cukup tegang. Perkembangan detik per detik selalu diikuti dan segera disampaikan ke Soeharto. Dikatakan, "Saya berusaha memberikan informasi terkini, tentang tuntutan dan permintaan yang terjadi di DPR, informasi bahwa akan ada orang-orang yang bergerak ke Monas, serta perkembangan dari luar negeri," ujar Probosutedjo, seraya menambahkan bahwa pada saat itu semua anak-anak Soeharto berkumpul di Jalan Cendana. Soeharto kemudian bertemu dengan tiga mantan Wakil Presiden; Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno. Pukul WIB, Soeharto memerintahkan ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadillah Mursjid, dan Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto. Soeharto sudah berbulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie. Wiranto sampai tiga kali bolak-balik Cendana-Kantor Menhankam untuk menyikapi keputusan Soeharto. Wiranto perlu berbicara dengan para Kepala Staf Angkatan mengenai sikap yang akan diputuskan ABRI dalam menanggapi keputusan Soeharto untuk mundur. Setelah mencapai kesepakatan dengan Wiranto, Soeharto kemudian memanggil Habibie. Pukul WIB, Yusril Ihza Mahendra bertemu dengan Amien Rais. Dalam pertemuan itu, Yusril menyampaikan bahwa Soeharto bersedia mundur dari jabatannya. Yusril juga menginformasikan bahwa pengumumannya akan dilakukan Soeharto 21 Mei 1998 pukul WIB. Dalam bahasa Amien, kata-kata yang disampaikan oleh Yusril itu, "The old man most probably has resigned". Kabar itu lalu disampaikan juga kepada Nurcholish Madjid, Emha Ainun Najib, Utomo Danandjaya, Syafii Ma'arif, Djohan Effendi, H Amidhan, dan yang lainnya. Lalu mereka segera mengadakan pertemuan di markas para tokoh reformasi damai di Jalan Indramayu 14 Jakarta Pusat, yang merupakan rumah dinas Dirjen Pembinaan Lembaga Islam, Departemen Agama, Malik Fadjar. Di sana Cak Nur-panggilan akrab Nurcholish Madjid-menyusun ketentuan-ketentuan yang harus disampaikan kepada pemerintahan baru. Pukul WIB, Amien Rais dkk mengadakan jumpa pers. Dalam jumpa pers itu Amien mengatakan, "Selamat tinggal pemerintahan lama, dan selamat datang pemerintahan baru". Keduanya menyambut pemerintahan transisi yang akan menyelenggarakan pemilihan umum hingga Sidang Umum MPR untuk memilih pemimpin nasional yang baru dalam jangka waktu enam bulan. Tanggal 21 Mei 1988 Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Kekecewaannya tergambar jelas dalam pidato pengunduran dirinya, ... Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan ke-7, namun demikian kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut. AP PHOTO/CHARLES DHARAPAK Presiden Soeharto pada saat mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Merdeka, Jakarta, pada tanggal 21 Mei keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara-cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi. Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan Fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI. Seusai Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya, dan BJ Habibie mengucapkan sumpah sebagai Presiden, Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto dalam pidatonya menyatakan, ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden/Mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto dan keluarga. Tim Kompas ***Tulisan ini telah tayang di Harian Kompas edisi 27 Mei 1998. Ditayangkan kembali oleh sebagai bagian dari kumpulan tulisan 18 Tahun Reformasi. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
- Mei 1998 adalah bulan terburuk bagi Soeharto. Setelah puluhan tahun jadi orang nomor satu di Indonesia, di tahun itu Soeharto harus menerima kenyataan bahwa banyak orang sudah tak menginginkannya untuk terus jadi Presiden Republik Indonesia. Di masa-masa kritis ini Soeharto mulai merasa dikhianati orang-orang terdekatnya. Pertama oleh Ketua MPR Harmoko—yang sebelumnya mengatakan bahwa rakyat masih menginginkan Soeharto terus jadi presiden, tapi kemudian malah meminta Soeharto mundur. Kedua oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Habibie—dikenal sebagai insinyur penerbangan yang bisa bikin pesawat—bukan orang baru bagi Soeharto. Sejak Habibie remaja dan Soeharto berpangkat letnan kolonel, mereka sudah saling kenal. Ketika Soeharto jadi presiden, Habibie kembali ke Indonesia dan jadi teknokrat penting yang diberi jabatan Menteri Riset dan Teknologi, lalu wakil presiden. Ditinggalkan Para Loyalis Pada hari-hari jelang Soeharto mundur, belasan menterinya sudah terlebih dulu mengundurkan diri. Meski demikian, Habibie sebagai wakil presiden tetap mendampinginya di masa yang tidak menyenangkan itu. Soeharto akhirnya terpikir untuk mundur dan Habibie menggantikannya. Tanggal 20 Mei 1998, sehari sebelum Soeharto mundur, ia bertemu dengan Habibie di istana. Sempat ada pembicaraan di antara mereka. Waktu itu sudah ada isu Soeharto akan mundur sebagai Presiden RI. “Pak Harto, kedudukan saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?” tanya Habibie, seperti diingat dan ditulisnya dalam Detik-Detik Yang Menentukan 2006 37. Soeharto pun memberi jawaban yang bagi Habibie di luar dugaan. “Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan melanjutkan tugas sebagai Presiden.” “Apakah Pak Harto sudah menerima surat pernyataan dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita dan empat belas Menteri di bawah koordonasi Menko Ekuin?” tanya Habibie untuk menghentikan tema pembicaraan sebelumnya yang baginya tidak menyenangkan. Soeharto mengaku sudah mendengar, tapi belum membicarakannya. Soeharto lalu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Habibie. Tak lupa Soeharto memberi pesan agar menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan menyelesaikan masalah Ginandjar dan kawan-kawan dengan baik. Habibie menimpali, “akan saya usahakan.” Menurut Probosutedjo dalam Memoar Romantika Probosutedjo Saya dan Mas Harto 2013 594, Habibie semula ditanya apakah dirinya siap menggantikan Soeharto menjadi presiden. Habibie awalnya merasa ragu. Setelah berita para menteri mundur, Habibie akhirnya mengaku sanggup. Sikap Habibie yang berubah-ubah ini membuat Soeharto kecewa. “Mas Harto tidak habis pikir, bagaimana mungkin keputusan yang sangat penting seperti 'sanggup tidaknya' menjadi presiden bisa berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Tidak sampai 24 jam,” kata Probosutedjo. Habibie, masih kata Probosutedjo, sempat menelepon Soeharto, tapi tak diangkat. Meski begitu Soeharto sudah mantap untuk mundur esok paginya dan membiarkan Habibie yang tiba-tiba bilang “sanggup” menggantikannya sebagai dan Tak Memberi Selamat Di hari pengunduran diri Soeharto, Habibie mengaku agak dijauhi atasannya itu. Padahal mereka berada di ruangan yang sama, Ruang Jepara, di dalam Istana Negara. “Saya merasakan diperlakukan tidak wajar,” kenang Habibie. Ketika akan menghampiri Soeharto, acara sudah akan dimulai. Terpaksa Habibie hanya bisa berdiri di sisi Soeharto. Pernyataan paling bersejarah sepanjang Orde Baru pun dibacakan Soeharto pengunduran dirinya sebagai Presiden RI. “Ketika menyampaikan pernyataan pengunduran dirinya, wajah Soeharto tampak dingin,” tulis Tjipta Lesmana dalam Dari Soekarno Sampai SBY 2009 123. Soeharto tampak merasa dirinya dipermalukan di hadapan seluruh bangsa Indonesia dan dunia internasional. Peristiwa bersejarah ini disiarkan berulang-ulang di televisi. Tapi dirinya tetap berusaha tegar di hari menyakitkan itu. Selesai Soeharto menyatakan diri berhenti jadi Presiden RI, protokol istana menyerahkan map kepada Habibie dan diminta membacakan sumpah dan kewajibannya sebagai Presiden RI. “Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Pak Harto memberi salam kepada semua yang hadir termasuk saya. Tanpa senyum maupun sepatah kata, ia [lalu] meninggalkan ruang upacara,” tutur Habibie dalam memoarnya hlm. 67. Pada hari itu, tak ada ucapan selamat dari Soeharto untuk Habibie.“Taktala menyalami tangan Habibie usai Habibie mengucapkan sumpahnya di depan Ketua Mahkamah Agung, ia Soeharto berusaha tersenyum, senyumnya kelihatan tidak ikhlas karena ekspresi wajahnya sama sekali tidak mendukung senyumnya," tulis Tjipta Lesmana. Soeharto boleh saja tidak suka bahwa dirinya harus mundur dan tidak rela Habibie menggantikannya, namun lanjut Tjipta Lesmana, “secara konstitusional, Soeharto memang harus menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden Habibie setelah ia mengundurkan diri.” Infografik Mozaik Soeharto, Habibie, & 1998Soeharto yang sudah berpengalaman menjadi orang paling berkuasa di Indonesia tampak ragu kepada Habibie sebagai presiden, apalagi dalam kondisi morat-marit yang diwariskan oleh rezimnya. Habibie pun merasa dirinya diragukan oleh penguasa Orde Baru itu lalu meninggalkan istana dengan didampingi putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana. Ia tidak naik mobil sedan yang biasa digunakannya, namun menaiki mobil jip bermerek Mercedes-Benz. Dengan mobil itu, Soeharto pulang ke rumahnya di Jalan pun kembali jadi orang biasa dan menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga yang tetap kaya di tengah tuntutan-tuntutan hukum atas dirinya. Belakangan, Habibie dianggap pengkhianat oleh Soeharto. Seperti Harmoko, Habibie juga dijauhi Soeharto. Silaturahmi di antara mereka berdua seolah-olah putus. Jika Harmoko tidak menyuruh Soeharto berhenti sebagai presiden dan Habibie menolak jabatan Presiden RI menggantikan Soeharto, barangkali ketiganya akan terus akur. Tentu saja Habibie punya pertimbangan sendiri untuk mau menerima dan meneruskan tugas Soeharto sebagai orang nomor satu di Indonesia.==========Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 1 Juli 2019 dengan judul "Soeharto Tak Rela Habibie Jadi Presiden & Tidak Mengucapkan Selamat". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik. - Politik Penulis Petrik MatanasiEditor Ivan Aulia Ahsan
Pembahasan Pembahasan Pada tanggal 21 Mei 1998, presiden Soeharto menyatakan declare berhenti dengan-cara sepihak tanpa laporan pertanggungjawaban atau persetujuan pihak manapun karena keadaan saat itu sedang darurat & gedung MPR/DPR dikuasai massa. Akhirnya presiden Soeharto menyatakan berhenti & dengan-cara otomatis wakil presiden Habibie menjadi presiden. Pemindahan kekuasaan dr presiden ke wakil presiden tersebut sesuai dengan Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945 yg menyebutkan bahwa “jika presiden mangkat, berhenti, atau tak mampu melaksanakan kewajibannya dlm masa jabatannya, beliau diganti oleh wakil presiden hingga habis masa waktunya”. Berdasarkan pernyataan tersebut, balasan yg tepat ialah E
- Hari ini, 53 tahun lalu, tepatnya 26 Maret 1968, Presiden Soeharto ditunjuk sebagai presiden, menggantikan presiden ke-1 RI, Soekarno. Melalui Surat Perintah Sebelas Maret Supersemar, Soeharto mengambil alih tampuk kepemimpinan. Tepatnya pada 22 Juni 1966, Soekarno diberhentikan sebagai presiden melalui Sidang Umum ke IV sesudahnya, Soeharto ditunjuk sebagai Pejabat Presiden. Baca juga Profil Presiden Kedua RI Soeharto Pejabat presiden Aksi mahasiswa usai peristiwa Gerakan 30 September 1965, membawa gejolak besar dalam yang saat itu hendak memimpin rapat kabinet di Istana Merdeka pada 11 Maret 1966 bahkan harus segera meninggalkan tempat. Dia meninggalkan Istana Kepresidenan Jakarta usai mendapat laporan adanya pasukan liar yang bergerak di luar Istana. Tiga jenderal kemudian menemui Soekarno di Istana Bogor yang kemudian menghasilkan mandat yang diberikan Soekarno kapada Letjen Soeharto selaku Menteri/Panglima Angkatan Darat. Surat tersebut dikenal sebagai Supersemar. Melalui Supersemar ini lah, Soeharto secara perlahan mengambil alih kepemimpinan nasional.
mundurnya presiden soeharto membawa habibie menggantikan menjadi presiden